Makna Sabar (1) : Sabar Saat Tertimpa Musibah - el tawashi

Terbaru

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Post Top Ad

Responsive Ads Here

Selasa, 27 November 2018

Makna Sabar (1) : Sabar Saat Tertimpa Musibah


Makna sabar secara sekilas dekat dengan hal-hal yang tidak mengenakkan, seperti ketika menanggung musibah, atau kesedihan. Dalam pengertian ini, pelaku sabar memiliki sifat pasif, yaitu ridha terhadap ketentuan-Nya. Padahal sebenarnya arti sabar lebih luas daripada itu. Dalam Madarij al-Salikin, Ibn Qayyim al-Jauziyah membagi kesabaran menjadi tiga. Berikut adalah bagian pertama dari ulasan tentang makna sabar.

***

Jenis sabar yang pertama adalah sikap sabar ketika Allah SWT menimpakan musibah. Sikap sabar ini terangkum dalam ayat berikut:

"Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. [+] (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun (sesungguhnya kami milik Allah dan hanya kepada-Nyalah kami kembali)". [Al-Baqarah: 155-156]

Bila Allah SWT menghendaki musibah terhadap hamba-Nya, tidak ada satu makhluk pun yang dapat menghalangi. Sikap hamba yang sejati adalah menerima ketentuan-Nya, sebab segala yang ada di dunia adalah milik-Nya. Ia berhak bertindak apapun atas kepemilikan-Nya.

Kita kerap kali memaknai musibah terbatas pada hal-hal yang dirasa pahit dan menyakitkan. Padahal bisa jadi itu cara Allah SWT menggugah diri kita untuk mendekat kepada-Nya, atau mungkin saja Allah SWT berkehendak menggugurkan dosa kita lewat musibah itu.

Bagi orang-orang saleh, musibah bukanlah azab, melainkan ujian Allah SWT. Dengan ujian itu, Allah SWT mengangkat derajat mereka. Adapun terhadap diri kita sendiri, Allah SWT telah melarang kita untuk mendaku-daku sebagai orang yang bersih dan suci dari dosa. Oleh sebab itu, introspeksi diri adalah sikap yang lebih tepat bagi diri sendiri.

"... Dan Dia lebih mengetahui (tentang keadaan)mu ketika Dia menjadikan kamu dari tanah dan ketika kamu masih janin dalam perut ibumu; maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa." [An-Najm: 32]

Wallahu a'lam bi-sh shawab.
 

Post Top Ad

Responsive Ads Here