***
Dalam upaya beribadah kepada-Nya terdapat beban bagi jiwa. Itu pula mengapa syariat juga disebut sebagai taklif, yang berarti "pembebanan". Syariat adalah ujian yang dibebankan Allah SWT kepada hamba-Nya sebagai bukti ketulusan penghambaan (ibadah). Barangsiapa yang benar-benar menghambakan diri kepada-Nya, hendaklah menapaki jalan syariat yang Ia tentukan.
Syariat menuntut kita untuk mengendalikan kecenderungan alamiah jiwa, seperti dengan membatasi makan saat berpuasa, berbagi kekayaan lewat zakat, menyisihkan waktu dan tenaga untuk shalat, dan sebagainya. Oleh sebab itu sikap sabar diperlukan.
Sikap sabar dalam beribadah tercermin dalam:
- Istiqamah, yaitu beribadah secara rutin. Sebab menggapai istiqamah bukan hal yang mudah. Ada banyak aral melintang yang siap menjadi alasan untuk mengulur atau tidak beribadah, baik ibadah wajib maupun sunnah.
- Menjaga keikhlasan, sebab ikhlas adalah ruh ibadah. Ibadah menjadi sia-sia bila tidak tertuju lagi kepada-Nya.
- Menyempurnakan tata cara beribadah dengan mempelajari pengetahuan yang berkaitan, semisal tata cara shalat berikut syarat wajib dan sahnya, aturan-aturan zakat berikut perhitungannya, dan sebagainya.
Sabar dalam beribadah serta menjauhi maksiat, dinilai lebih tinggi derajatnya oleh Ibn Qayyim daripada sabar saat menghadapi musibah. Kita tidak memiliki pilihan saat musibah telah terjadi. Kehendak-Nya mutlak. Namun saat dihadapkan pada maksiat, kita punya pilihan untuk melakukan atau meninggalkannya, seperti halnya saat dihadapkan pada ibadah.
Semoga Allah SWT sudi untuk senantiasa menganugerahi kita kesabaran dalam segala hal. Amien.
Wallahu a'lam bi-sh shawab.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar